I look for people – Vacancy

hi there,

I’m back again after more than a month being absent in this cyber world.

I have to post this urgency as these are most wanted.

I am looking for:
1. A Woman, good or expert in mathematics, S1 – undergraduate degre in related major, willing to work in Cikarang as the teacher head of newly open Kumon, mathematic course. If you are interested, find out my contact number on this weblog. – Urgent

2. A Man, undergraduate or postgraduate, expert in social studies, willing to work in cikarang. as Corporate Social Responsibility (CSR) manager position in a developer company in cikarang , age between 25-35 years old. Could be Indonesian or foreigner. – Urgent.

If you are meeting those criteria above, contact me in advance.

Regards,

Reiza

Back to President Campus

Friday, March 2

after going through a 4-month time internship in UNESCO Office Jakarta, I eventually go back to my campus to finish my bachelor study. A feeling of going back to the past. Even though I always bear in mind that there is no turning back in this life.

I still have 5 classes to take and my undergraduate thesis to finalize. It’s tough time to adjust myself again to the slow life in Cikarang, for another 4 – 5 months. It won’t be long, I know. I simply need to follow this through.

I feel so hard. Even though it was only four months in UNESCO Office Jakarta, the memories, the experiences and the knowledge remain unforgettable. They filled almost every part of my mind and spirit – my life. I know that it was my way, it was my path. It’s my life and I have to build it from now on.

Going back to Cikarang, to President University campus is another four months ahead to open the door of my whole new life. I must be patient to go through all of these.

finishing my study will release another responsibilities and giving me new capacity to welcome and enter working life throughout the world.

Study hard and smart to welcome your future!

Cheers, Reiza

Banjir di Kota Jababeka, Cikarang – Bagian 2

Jumat, 2 Februari 2007

Sesampainya di atas aku hanya bisa berdoa dan bersyukur bahwa akhirnya aku bisa menyelamatkan diri dan beberapa orang lainnya, meskipun aku sempat terseret arus yang cukup kencang menuju ke aliran sungai yang membelah Kota Jababeka, tapi untunglah ada seseorang yang menarik dan menyelamatkanku.

Saat itu aku sudah berpikir panik dan rasanya ingin berteriak dan menangis. Mungkin seperti ini orang-orang di Banda Aceh pada saat Tsunami menghantam Propinsi di ujung barat Indonesia. Aku berbicara dan terdengar sekali bahwa suaraku bergetar, ketakutan dan kedinginan – panik.

Aku pun mulai bertanya-tanya kepada beberapa orang warga termasuk penjaga kamar kos, mas Aza apakah semua orang bisa diselamatkan dengan kondisi seperti itu. Andaikan aku bisa bangun dan mengevakuasi diri lebih awal, tapi itu sudah rencana Yang di atas.
Akupun juga bertanya-tanya apakah ada anggota dari kantor Polres Bekasi yang letaknya sangat dekat dari perkampungan Blok1 yang membantu warga untuk evakuasi, ternyata tidak. Aku bertambah marah. Dan aku hanya melihat beberapa orang satpam berjalan dan melihat orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri mereka. Aku sangat marah.

Dengan suara serak-serak panikku, aku datangi salah satu orang yang tampaknya anggota polisi, yang hanya duduk di dalam mobilnya sambil memegangi radio penghubungnya. “Pak, tolong lah pak, banyak sekali orang-orang di bawah sana yang masih harus diselamatkan, arus air cukup deras dan air semakin tinggi. Banyak anak-anak, orang tua dan wanita hamil.” tetapi dia masih tampak tenang. Akhirnya, aku berusaha merogoh UNESCO ID Card ku di kantong tas bagian depanku (sebenarnya sudah berakhir per 31 Januari, sebelum kontrakku diperpanjang, aku harap ini langkah yang benar). Dan kutunjukkan padanya dan aku sampaikan bahwa aku staff UNESCO Jakarta dan aku benar-benar membutuhkan pertolongannya untuk menyelamatkan warga yang berusaha naik dan menyelamatkan diri dari kepungan air yang semakin naik dan arus yang cukup deras.

Akhirnya, dia mulai bergerak dan menjalankan mobilnya untuk mencari bantuan. Aku bersyukur. Aku tidak bisa berbuat banyak selain mencari bantuan dan menanyakan kondisi beberapa orang teman yang aku tahu, kamar kos mereka terletak di tanah yang lebih rendah. Aku berusaha menghubungi mereka dan menanyakan keadan mereka. Syukurlah mereka sudah menyelamatkan diri, tetapi air sudah menutupi daun pintu kamar kos mereka, tetapi mereka sudah mengevakuasi diri dan beberapa barang berharga mereka ke kamar kos lantai 2.

Setelah aku memastikan bahwa mereka selamat, aku pun berjalan melawan arus air yang terus naik dan menggenangi jalan di boulevard Jababeka Education Park menuju ke kantor LPPM yang tidak jauh dari sekolah Al-Azhar, karena biasanya disana ada bebrapa satpam yang berjaga dan aku kenal bebrapa satpam itu, karena mereka dulunya berjaga di asrama mahasiswa President University.

Aku berjalan dengan hanya mengenakan celana pendek yang sudah basah kuyup dan kaos putih yang sudah separuh terendam air lumpur separuh dan sandal jepit yang tali sebelah kanannya lepas menuju ke kantor LPPM untuk mencari bantuan untuk warga.

Dari kejauhan aku bisa melihat dua orang satpam yang duduk di luar kantor melihat ketinggian air yang perlahan merambat masuk ke lapangan parkir LPPM-C. Salah satu dari mereka aku kenal, syukurlah. aku akan dengan mudah berbicara dengan nya dan meminta bantuan untuk menyelamatkan warga.

Ternyata pikiranku salah, kali ini. Dia malah menertawakanku dengan kondisiku yang basah dan menenteng tas kresek putih besar dan tas ransel di punggung, serta sandal sebelah kanan yang putus. Brengsek, pikirku. Aku sedikit membentak dan berbicara dengan sedikit keras meminta supaya mereka membantu warga untuk evakuasi. Tetapi mereka hanya diam dan tertawa kecil. Aku bingung?!

Lalu aku menanyakan tentang anggota aparat di kantor Polres sebelah. Dia hanya mengatakan bahwa kantor Polres saat ini kosong. Bagaimana mungkin? dalam keadaan seperti ini mereka tidak ada? Mereka menyelamatkan warga dari arah lain. Aku berpikir, warga banyak menuju ke arah sini, tapi kenapa mereka malah berputar arah untuk menyelamtkan warga dari sebelah sana. Aku pikir mereka tidak mungkin bisa membantu.

Akhirnya aku pun berjalan kembali ke arah warga menyelamatkan diri mereka dari kepungan banjir

Aku bingung tidak tahu haru bagaimana dan harus kemana. Aku tidak memikirkan barang2ku lagi, biarlah. Yang paling penting saat ini aku sudah berhasil naik dan selamat. Aku menghubungi sopir bis Jababeka, Pak Roso dan menanyakan apakah bisa tetap jalan hari ini. Ternyata, dari suara di telepon, Pak Roso juga kebingungan menyelamatkan keluarganya dan rumahnya yang juga digenangi air setinggi perut.

Hm..aku bertambah bingung dan kacau.

Aku juga bisa melihat dari kejauhan, di bunderan golf juga sudah tergenang air yang cukup tinggi dan air mulai naik ke arah Resto Plaza.

Kondisi memang menegangkan. Tidak lama kemudian banyak aparat yang mulai dtang dan mengamankan jalan dan membantu warga yang berusaha menyelamatkan diri mereka, entah itu karena permintaanku ke polisi yang hanya duduk di mobilnya tadi atau memang itu..aku tidak tahu. tapi aku cukup senang dan lega bahwa akhirnya beberapa polisi berdatangan dan membantu.

Beberapa memblokir jalan dan menghentikan beberapa kendaraan yang berusaha melewati jalan, karena memang ketinggian air juga lumayan untuk menenggelamkan sepeda motor dan menggenangi mobil. Jalan dialihkan untuk menghindari korban dan hal-hal yang tidak diinginkan. Aku juga bisa melihat bahwa air juga perlahan masuk ke halaman parkir President University yang tidak jauh dari sungai.

Selang beberapa saat datang beberapa truk untuk membantu mengevakuasi warga, dengan sorotan lampunya menerangi jalanan yang gelap dan untuk mengikatkan tali tampar yang besar untuk berpegangan supaya tidak ada yang terseret arus yang kencang. Sedikit demi sedikit warga naik dan mereka merasa lega. Beberapa mengatakan bahwa motor mereka sudah tenggelam terendam air dan mereka tidak sempat menyelamatkan motor mereka. Beberapa hewan ternak seperti sapi, kambing dan ayam juga sudah dilepaskan tetapi tidak tahu apakah mereka mampu menyelamatkan hewan ternak mereka.

Benar-benar suasana yang mencekam di saat dini hari sebelum subuh di hari Jumat awal Februari 2007.

Banjir besar juga menerjang Jakarta dan sekitarnya tahun 2002, 5 tahun yang lalu, tetapi ini diketahui lebih parah dari banjir sebelumnya. Unbelievable. Aku ngga bisa membayangkannya.

Waktu menunjukkan jam 5 lebih dan aku melihat Ronald, mahasiswa Vietnam yang akan pergi ke Jakarta dengan bis Pak Roso, tapi aku sampaikan bahwa bis Pak Roso hari ini tidak ke Jakarta, karena Pak Roso dan kelluarga terjebak banjir dan tidak bisa menuju kampus. Akhirnya kutawarkan untuk pergi ke pintu tol bersama lalu kita naik bis ke Jakarta bersama. Akhirny, kita pun berjalan menerjang air yang mulai naik dan berusaha melewati daerah yang masih kering.

Dia tampak terkejut dengan adanya banjir seperti ini. Tapi dia mengatakan bahwa banjir tidak sampai ke asrama mahasiswa – student housing – yang ada di belakang Resto Plaza. Aku pikir pasti tempatnya lebih tinggi. Kita pun berjalan melalui trotoar yang memang lebih tinggi dari ketinggian jalan raya. Setelah melalui jalan seberang Polres Bekasi, mas Aza berlari ke arahku dan memberitahuku nomer pemilik kamar kos untuk dihubungi jika air sudah surut. Aku sedikit kuatir degan kondisinya dan keluarga, karena aku tahu bahwa adiknya sedang hamil dan dia bersama ibunya yan sudah tua.

Akku berjalan melewati pintu gerbang Jababeka Education Park dan naik ke angkot 33 menuju pintu tol Cikarang untuk naik bis ke Jakarta. sekitar 15 menit kitapun sampai di pintu tol, dan waktu menunjukkan jam 6 kurang. Tidak lama bis pun datang dan aku naik dengan keadaan yang basah kuyup dengan handsfree yang terpasang di telinga untuk mendengarkan perkembangan banjir dari radio.

Aku duduk di bagian belakang bis dan AC dinyalakan cukup dingin. Selama perjalanan aku melihat kana kiri, memang banjir dimana-mana. Ada yang mencapai ketinggian sampai 1 atap rumah, sangat parah. hampir sepanjang perjalanan dari Cikarang- Jakarta melalui Cibitung, Grand Wisata, Bekasi Timur, Bekasi Barat, Pondok Gede dan Halim. Pintu tol ke arah Tanjung Priok dari Halim juga diblokir karena air sudah menggenangi sebagian ruas jalan tol. Parah.

Ketika memasuki Kota Jakarta, hujan mulai turun dengan deras. Aku berpikir untuk kembali ke Cikarang, tetapi tidak akan mengubah keadaan. Akhirnya kupun turun di Halte bis Polda dan menunggu taxi ke kantor. Tetapi keadaan lain sekali. Aku sudah menunggu taxi selama 30 menit tetapi tidak ada satupun taxi yang berhenti. Banyak sekali orang berebut mendapatkan taxi, bahkan ada yang memanfaatkan jasa tukang ojeg payung. Akhirnya ku putuskan untuk naik ojeg ke kantor dengan kondisi yang sangat basah dan pakaian seadanya.

Akhirnya aku sampai di kantor. Aku berusaha menenangkan diri dan menyalakan komputer. Lalu aku mandi dan membilas badanku seadanya tanpa sabun atau shampoo atau pasta gigi. Aku tidak berpikiran aku harus membawa apa.

Ya, akhirnya aku di kantor dengan hanya memiliki apa yang aku pakai dan yang aku bawah di tas ranselku. Aku juga tidak mau berpikir panjang bagaimana bajijr akan menenggelamkan kamar kosku dan merusak semuanya, tetapi aku sudah sempat mengunci kamar kosku sebelum aku pergi menyelamatkan diri.

Selama perjalanan Cikarang – Jakarta, pikiranku kosong, tidak ada dan tidak memikirkan apapun, hartaku, bukuku, pakaianku, tidak sama sekali. Aku berpikir selama perjalanan bahwa mungkin seperti ini juga yang dialamai oleh orang Aceh pada saat Tsunami datang dan pergi, mereka berusaha menyelamatkan diri mereka karena takut akan datangnya gempa dan Tsunami susulan. Jalan tol cukup padat pagi itu. Aku jadi bisa merasakan ketakutan dan ketegangan film Deep Impactnya Ellijah Wood (kalau ngga salah) – yang menceritakan tentang banjir dan semua orang panik hingga akhirnya jalan tol pun padat. Atau pun film War of the Worldnya Tom Cruise – banyak orang memadati jalan tol untuk menyelamatkan diri mereka dari kejaran alien.

Well, i’m still alive rite now. this’s it. Semua cerita tentang banjir yang melanda Kota Jababeka, Cikarang yang aku alami di awal bulan Februari ini.

Aku akan menulis cerita-cerita lainnya yang berhubungan dengan banjir di Jakarta dan sekitarnya lagi di kategori Jakarta.

Thanks God, I’m alive.

Reiza

Banjir di Kota Jababeka, Cikarang – Bagian 1

Kamis, 1 Februari

Malam itu entah kenapa aku memutuskan untuk pulang ke Cikarang dan tidak bermalam di rumah saudara di kawasan Tebet, Jakarta. alasanku untuk pulang adalah untuk mengambil pakaian yang aku masukan ke laundry Cuciku di Kota Jababeka, Cikarang Bekasi. Sore itu, aku sengaja naik bis 121A kota Jababeka – Blok M, tidak naik bis Jababeka dari Menara Batavia. Aku berpikir, jika aku naik bis umum aku akan lebih cepat sampai di rumah. Sesampainya di pemberhentian bis 121 A di Kota Jababeka di seberang jalan ruko Metro Boulevard, aku naik angkot 99A aku tidak bisa melihat secara jelas A atau B, karena pada malam itu sekitar pukul 19:30 listrik di Kota Jababeka padam. Hanya sebagian bangunan pabrik dan Rumah Sakit Hosana International yang tetap menyala.

Setelah itu, aku turun di ruko Roxy dan mengantri di ATM Mandiri untuk mengambil sedikit uang cash untuk pembayaran laundry. Seharusnya aku mengambil laundry hari sebelumnya, Rabu 31 Januari. Setelah ku ambil laundry, aku berjalan di dalam gelap menujur ke Pasimal (Pasar Siang Malam), di sinilah sebenarnya pusat kehidupan kota Jababeka, di mana banyak sekali karyawan pabrik dan warga sekitar berkumpul untuk meluangkan malam mereka. Keadaan malam itu memang gelap dan hujan turun rintik-rintik, tetapi itu tidak menyurutkan keinginan warga Kota Jababeka untuk tetap keluar dan makan di beberapa warung di Pasimal.

Keadaan memang sedikit mencekam. Setelah menyelesaikan makan malamku, mie rebus ala Pasimal, aku berjalan ke ujung jalan di dekat masjid Kasuari untuk mendapatkan ojeg pulang ke arah bolk 1, perkampungan (barangkali bisa dibilang kumuh, di belakang sekolah Al-Azhar, Jababeka Education Park). Di perjalanan aku sempat bercakap dengan pengendara ojeg yang tampaknya masih berusia belasan tahun. Aku menanyakan sudah berapa lama listrik padam.

“Kalau di Cikarang Baru sejak pukul 17:30 atau menjelang maghrib. Sedangkan di Blok 1 sudah dari siang tadi jam 12an.” katanya yang aku dengarkan dengan hembusan angin yang cukup kencang.

Perjalanan dari Pasimal menuju Blok 1 sekitar 3-4km. Sesampainya di dekat kamar kosku (rumah petak atau rumah bedeng), aku turun dan jalanan sedikit basah dan berlumpur. Setelah membayar uang Rp5000 aku berjalan dengan hati-hati sambil melihat ke bawah, barangkali ada genangan air.

Setelah aku masuk rumah, kondisi memang sangat gelap. Meskipun aku memiliki beberapa lilin, tapi aku baru menyadari bahwa aku tidak memiliki korek api untuk menyalakannya. Setelah berganti pakaian dan merapikan kamar, aku berjalan keluar menuju ke warung depan rumah untuk membeli korek api. Aku juga bertemu dan menyapa karyawan kampus yang menempati kamar paling ujung dan penjaga kosan.

Setelah itu aku kembali ke kamar dan menyalakan lilin untuk menerangi kamar. Setelah sedikit meregangkan otot-ototku dan pikiranku, aku mandi dan kemudian sholat. Ada sedikit firasat yang kurang enak memang sebelum sholat dan ketika sholat. Aku berpikir malam itu, sholatku untuk mengamankan rumahku dari beberapa gangguan (makhluk halus, hari gini?!) dan orang-orang jahil. Karena memang itu bangunan baru dan juga baru aku tempati beberapa hari – kurang dari seminggu.

Setelah sholat, aku mengirim beberapa sms ke beberapa orang teman lama dan saudara. Sebelumnya aku menerima sms dari bapak di Surabaya menanyakan kabarku karena dia tahu ada banjir di Bekasi dan ingin tahu apakah di tempatku, di Cikarang juga terkena banjir. Sampai malam itu aku belum sempat menjawab sms itu, sambil mendengarkan musik dari laptop Appleku. Keadaan di kamar memang gelap. Aku matikan api lilin di ruang depan dan juga di kamar mandi. Aku nyalakan 2 lilin di ruang tengah, di mana aku tidur. Aku juga sempat bertelepon dengan teman yang ada di Jakarta dan menceritakan bahwa dirinya juga terjebak hujan dan banjir di kawasan Ciputat, Jakarta Barat.

Hari semakin larut, aku juga mulai mengantuk. Kumatikan laptop dengan kondisi baterai yang tinggal sedikit. Kumasukkan laptop, dompet dan jam tangan ke dalam ransel Eastpak hitamku. Tiga handphone kuletakkan di samping bantal dengan alarm yang sudah erpasang untuk membangunkanku setelah subuh karena aku berencana untuk naik bis Pak Roso ke Jakarta keesokan paginya. Jam waker yang sudah kesetel alarmnya juga, senter berada di dekatku. Dua lilin yang menyala dan 1 lilin yang sudah mulai memendek. Setelah berdoa aku mulai memejamkan mataku. Tapi kali ini sedikit berbeda, aku merasakan hal lain di dalam doaku. Well, tapi akhirnya pun aku tertidur pulas seperti biasanya.

Jumat, 2 Februari

Tiba-tiba aku terbangun, lilin di kamarku sudah padam dan aku melihat jam yang ada di sampingku dan kutekan lampunya. Waktu masih menunjukkan jam 3 lebih dini hari. Aku mendengar suara ribut-ribut, samar-samar terdengar dari luar. Mulanya aku kira hanya orang-orang ribut biasa, tapi rasa penasaranku mempengaruhi otakku untuk mencari tahu. Aku bangun dan berdiri dari kasur lipatku di lantai yang cukup dingin. Kubuka kelambu dan mengintip dari balik jendela, mencari tahu apa yang terjadi. Kulihat banyak sekali orang berkerumun di warung depan rumah yang tampak terang dengan banyaknya lilin yang dinyalakan. Aku kira orang sakit atau orang mati (biasa orang di perkampungan ini toleransi terhadap tetangga di sekitarnya) Tapi aku merasakan ada yang lain. Kubuka pintu kamarku dan melihat kanan kiri. Tampak ada lemari dan meja rias di luar. Samar-smar dan setengah sadar aku melihat. Aku berpikir, “Ah mungkin hanya orang atau tetangga samping rumah baru pindah dan mengisi kamar.”

Tiba-tiba aku melihat mas Aza (aku kurang tahu nama sebenarnya), si penjaga kamar kosan kita tampak panik berlarian dan dia melihatku, lalu berteriak kencang, “Mas ayo mas buruan lari, banjir!” Aku pun kebingungan, kulihat teras depan masih kering dan dia berteriak banjir?! suasana memang tampak panik, aku ke dalam dan kencing ke kamar mandi dan keluar lagi melihat keadaan. Dia masih terus meneriakkiku untuk menyelamatkan diri. “Mas ayo buruan, selametin barang-barang berharga, dompet, handphone, air sudah meninggi.” Ketika kedua kalinya aku keluar rumah, aku mulai melihat bahwa air perlahan masuk di depan teras rumah, sekitar 2 cm, kali ini jelas kulihat. Aku pun mulai bergegas menyelamatkan barang-barangku, semua aku masukan ke dalam ranselku. dan aku sempat mengambil pakaian sepasang dan sepatu untuk ke kantor. Dan sedikit kurapikan beberapa barang. Aku tidak banyak memikirkan harus menyelamatkan buku-buku dan beberapa kotak dokumen yang aku letakkan di lantai. Dan ensikolpedia wayang 6 edisi milik Martin (temanku dari Denmark) yang dititipkan ke aku beberapa waktu lalu sebelum dia kembali ke Denmark.

Tidak terpikirkan olehku untuk menaikkan semua kotak-kotak dokuumen itu ke atas lemari yang baru aku beli di Carrefour Ambassador seharga Rp199,900. Dan beberapa tas ransel yang berisi beberapa buku dan dokumen yang ada di lantai.
Yang aku pikirkan saat itu hanyalah, aku harus percaya bahwa kita sedang diserang banjir dan air mulai naik. Aku percaya karena memang sungai terletak tidak jauh di belakang rumahku. Dan aku hanya berpikir aku harus menyelamatkan diri dan beberapa barang berhargaku.

Dengan hanya mengenakan kaos putih Giordano yang aku beli di Seoul dengan harga diskon dan celana pendek Adidas yang aku beli 4 tahun yang lalu di Surabaya dengan penghasilan pertamaku dari mengajar kursus Bahasa Jerman dan sandal jepit, tas ransel hitam di punggungku, dan tas kresek putih besar dari Cuciku yang berisi pakaian dan sepatu, aku mengunci kamarku dan mulai menyelamatkan diri bersama warga lainnya. Dengan berbekal lampu senter untuk penerangan jalanku, aku mulai berjalan menuju jalan utama Jababeka Education Park bersama warga lainnya.

Suasana masih sangat gelap. Ketika aku melangkahkan kaki keluar dari area kamar kos, air sudah setinggi lebih dari mata kaki. aku berjalan lebih jauh bersama warga yang lain dan perlahan air memang mulai naik, setinggi lutut, paha dan akhirnya setinggi pinggangku dan sempat sesaat setinggi dadaku. Air mengalir deras dan menghantam beberapa warga yang berusaha menyelamatkan dirinya. Aku sempat terseret arus dan hampir hanyut, tetapi seseorang menarik tangan kiriku sedangkan tangan kananku menggenggam hp berusaha untuk menghubungi teman dan beberapa saudara. Akhirnya mas Aza memegangi aku supaya tidak terseret arus lagi sambil dia memegangi adiknya yang sedang hamil dan ibunya yang sudah tua.

Menit-menit melewati arus air yang deras menuju sungai itu memang saat yang cukup berat buatku. Rasanya aku ingin menangis, ingin berteriak, menggiggil kedinginan semuanya bercampur aduk di dalam diriku dan pikiranku saat itu.

Setelah beberapa saat berjuang untuk naik ke atas, ke jalan utama akhirnya kita sampai dengan selamat di atas. Alhamdulillah. Aku bersyukur akhirnya aku bisa sampai dengan selamat di atas.

bersambung…

Banjir di Cikarang, Bekasi

2 Februari, 2007

Kurang lebih sekitar pukul 4 dini hari, aku mengevakuasi diri dari kamar kos yang baru aku tempati sejak hari Sabtu minggu lalu.

Feel like I want to cry:-(

Tetapi semua tempat dan banyak tempat yang banjir. Paling tidak aku sempat membantu warga untuk mengevakuasi diri.

Dan saat ini aku hanya memiliki apa-apa yang aku bawa pagi ini di tas ransel ku. Kutinggalkan semua barang-barang di rumah tanpa berpikir panjang, tanpa berpikir aku harus menyelamatkan barang-barangku. Sudahlah semua sudah terjadi.

Kota Jababeka terendam air. banjir hingga sebatas pinggang dan listrik padam. Aku tidak bisa membayangkan hal ini. Pemadaman listrik ngga ada masalah. Kalau di tambah banjir. Ya Allah, ada apakah ini.

Aku harus berkompromi dengan keadaan saat ini. Aku harus tegar dan kuat.

Aku akan melanjutkan tulisan ini setelah aku bisa merasa sedikit lebih tenang.

Cast Away In A Small Town Called Cikarang

Cikarang, a small town full of industrial estates…

In this category, I’ll write everything I have been experiencing in this small town during my four years time living, studying and working in here.

Keep yourself updated with this category as I’ll write more in this session, will be more surprising with a lot of untold stories.

Cheers, Reiza

Bedah Buku ‘Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian’ di EJIP Center

Workshop sehari yang digelar oleh FUPM (Forum Ukhuwah Pekerja Muslim) EJIP pada tanggal 5 Februari lalu di EJIP Center lantai 2 ini mendatangkan penulis buku ‘Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian’, Valentino Dinsi, SE, MM, MBA, yang saat ini menjabat sebagai Managing Director of LET’S GO Indonesia – sebuah organisasi internasional di bidang kewirausahaan perwakilan dari Philippines – yang juga aktif sebagai pengurus DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia periode 2004-2008.

Kini, beliau bersama-sama dengan para pengusaha sukses aktif membimbing calon pengusaha maupun pengusaha kecil dan menengah yang ingin memulai dan membesarkan usahanya melalui LET’S GO Indonesia dengan metode Business Mentoring™.

Selain memompa semangat, untuk segera memulai dan menuntun para karyawan untuk memasuki dunia wirausaha, buku ini juga berusaha untuk menghilangkan mitos bahwa uang adalah segalanya untuk memulai bisnis, padahal, tanpa uang sekalipun kita mampu untuk memulai bisnis sekarang juga. Selain itu, buku ini juga menunjukkan cara orang-orang sukses sebelumnya dalam meraih kesuksesan sehingga langkah-langkah mereka dapat diikuti.

Ketua penyelenggara acara ini, Tatang, juga menyampaikan bahwa acara ini ditujukan untuk para karyawan supaya nantinya mereka mampu memulai bisnis kecil mereka. Workshop ini juga mngundang beberapa pembicara antara lain Ir. Adi Kurniawan, Direktur Utama Razbi, Lutfi Buchori dari Bank Syariah Mandiri dan juga Widodo, anggota DPRD Bekasi.

Valentino juga menyemangati para karyawan supaya bisa menyiapkan bisnis sebelum mereka kehilangan pekerjaan karena pensiun atau masalah PHK dan menyarankan supaya para karyawan juga mampu menyeimbangkan pekerjaan mereka sebagai karyawan perusahaan dan wirausahawan. Mereka juga disarankan untuk mencari side income dan mengubah paradigma bepikir mereka dalam mencari penghasilan. Dalam bukunya juga dituturkan bahwa, “kehidupan anda hari ini adalah hasil dari cara berfikir anda kemarin. Kehidupan anda besok akan ditentukan oleh apa yang anda pikirkan hari ini.” (Mr)

This is the first article I wrote when I was hired as the copy editor of a local newspaper called, “Cikarang Pos” – in February 2005

The Golfville

Enjoy Your Golf Journey from West to East

Kota Jababeka dengan bangga memepersembahkan sebuah mahakarya hunian The Golfville. Setelah memulai dengan Golf course 18 lubang yang didesain oleh Nick Faldo dan telah beroperasi sejak tahun 1990, kini Kota Jababeka mengembangkan lahan golf di sekitarnya dengan kawasan hunian eksklusif bertemakan Golf Journey.

Tee Port: The Beginning of Your Golf Journey

Awali pengalaman Golf Journey di the Golfville persembahan Kota Jababeka dari TEE PORT yang merupakan pintu gerbang utama memasuki kawasan. Sambutan yang bernuansa padang golf tropis akan sangat terasa dengan kehadiran Welcoming Fountain dan Reflecting Pool yang akan memecah hawa panas ibukota.

Welcoming Fountain ini dedesain sedemikian rupa sehingga bisa digunakan sebagai meeting point dan karena keindahannya juga dijadikan untuk photo spot yang biasa kita jumpai di Disneyland. Suasana ini semakin menambah kesemarakan yang dihadirkan di kawasan TEE PORT.

Tidak hanya itu, Reflecting Pool atau kolam pencerminan semakin menghidupkan aktivitas di sekitarnya. Pantulan bangunan yang ada di sekitar pada air jernih kolam tampak jelas dan memperindah pemandangan ketika duduk di tepian kolam. Nyiur yang berada di sekeliling kolam akan menambah kerindangan suasana ditambah hembusan angin sepoi yang menyejukan ketika meluangkan waktu senggang di sini.

Golf View Café & Restaurant akan menjadi tempat untuk melepaskan kepenatan setelah bermain golf bersama keluarga ataupun rekanan bisnis. Sajian makanan dan minuman nya yang menyegarkan dan mampu mengembalikan stamina tubuh yang terpakai ketika tongkat golf diayunkan di padang golf 18 hole yang didesain oleh Nick Faldo. Kehadiran Café & Restaurant semain mendukung dan memanjakan waktu bermain golf yang sangat menyenangkan.

“So everybody can play golf!” merupakan slogan yang digunakan di Golf Academy di kawasan TEE PORT ini. Akademi ini adalah tempat untuk pemula yang ingin belajar bermain golf dari dasar ataupun para golfer yang ingin menyempurnakan dan meningkatkan kualitas permainan golf mereka.

Suasana yang sangat kondusif dan cocok sekali untuk belajar mengayunkan tongkat golf bagi setiap orang yang bergabung di akademi ini. Golfer Pickup Terrace semakin melengkapi fasilitas yang ada di area TEE PORT yang bisa juga digunakan sebagai meeting point dengan rekanan bisnis atau kolega ketika akan bermain golf.

TEE PORT yang berada di kawasan the Golfville merupakan permulaan dari perjalanan golf yang akan dilalui seperti ketika bermain golf. Kehadiran Welcoming Fountain, Golf Academy, Golf View Café & Restaurant dan Golfer Pickup Terrace semakin menambah kemeriahan yang dihadirkan di kawasan ini. TEE PORT akan menghidupkan permulaan Golf Journey Anda dengan suasana yang mampu menginspirasi dengan suasana yang bernuansa golf.

Fairway Hill: Celebration on Golf Hill

Fairway Hill merupakan sebuah kawasan yang dibangun sebagai pusat fasilitas dari pusat kegiatan the Golfville. Sesuai dengan namanya, kawasan ini dibangun di atas kontur tanah yang membuat serasa di atas bukit. Dikemas secara berbeda untuk menciptakan suasana perayaan dan keramaian di atas sebuah bukit memberikan cita rasa tersendiri pada setiap bangunan yang ada di kawasan yang merupakan bagian kedua dari keseluruhan Golf Journey di the Golfville.

Food Promenade didirikan di kawasan Fairway Hill untuk melengkapi dan menawarkan pilihan baru taman hidangan yang menyediakan dan menyajikan menu-menu masakan dengan rasa dan aneka yang variatif. Baik masakan dalam negeri maupun menu makanan dari negara lain tersedia di Food Promenade yang memudahkan Anda untuk meluangkan waktu senggang sekaligus mencicipi masakan yang tersedia di sini. Lokasi yang strategi sehingga Anda tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mendapatkan makanan kesukaan Anda.

Terrace Garden Café merupakan pilihan lain dalam bersantap bersama keluarga atau rekanan bisnis Anda. Dengan suasana yang berbeda dan pemandangan yang taman dan bukit menjadikan waktu makan Anda semakin menyenangkan.

Café Arcade dibangun di area Fairway Hill dengan cita rasa baru dengan jajaran shopping arcade bernuansa Eropa klasik menjadi latar belakang yang menawan. Di sini, selain menikmati hidangan di café arcade, juga didesain sedemikian rupa untuk kenyamanan berbelanja para pengunjungnya. Dengan arsitektur bangunan yang unik memberikan nilai lebih tersendiri pada café-café yang berada di sekitar shopping arcade di area ini.

Central Stage adalah pusat area yang juga menjadi pusat kegiatan di Fairway Hill yang memberikan banyak pilihan dalam berbelanja, bersantap, berbisnis, hingga berolahraga serta berekreasi di waktu luang Anda dengan fasilitas Clubhouse berskala kawasan. Selain itu juga tersedia ruang-ruang pertemuan dengan kapasitas memadai yang nyaman dan eksklusif di Business Center.

Forest Hill menghadirkan suasana yang sejuk di tengah-tengah Fairway Hill. Hutan buatan yang berbukit ini dibuat untuk memberikan lahan hijau yang ramah lingkungan di area ini untuk menambah kenyamanan selama berada di sini. Bisa dimanfaatkan untuk bersantai dan berekreasi ataupun berjalan-jalan bersama keluarga.

Green Oase: The Green of the Golfville

Green Oase merupakan suatu suasana hijau yang sangat jarang Anda temukan di kota besar yang sudah sangat padat dan penuh hingar bingar dan sebagai ujung perjalanan di kawasan the Golfville selama Golf Journey Anda. Di sini akan ditemui tempat-tempat yang mengedepankan nuansa hijau tropis yang alami.

Botanic Garden menjadi pusat rekreasi sekaligus menjadi paru-paru kota yang berharga dan memberikan nilai pendidikan untuk putra-putri Anda. Sambil berekreasi mereka dapat mempelajari tanaman-tanaman yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Menciptakan nilai edukatif dari sudut pandang yang mendidik sehingga Anda tidak perlu pergi jauh ke kebun raya lainnya karena di Green Oase Anda akan menemukan apa yang diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak Anda.

Adventure Park didirkan bagi mereka yang senang akan berpetualang. Taman berpetualang dengan situasi seperti summer camp akan memberikan suasana berbeda kepada Anda: tegang, senang dan juga bersemangat. Menjadikan aktivitas Anda di sini lebih hidup dengan pepohonan yang lebat seolah-olah Anda sedang berpetualang di pedalaman hutan. Area ini merupakan tempat dengan gaya baru berekreasi dan bersenang-senang dengan teman dan keluarga Anda.

Multination Square adalah tempat bertemunya orang-orang dari berbagai negara. Itulah kenapa diberi nama demikian karena menjadi pusat pertemuan orang-orang dari berbagai suku bangsa dan negara. Anda juga bisa menjadikan tempat ini sebagai meeting point dengan teman dan kolega Anda. Letaknya yang strategis tentunya akan memudahkan Anda dalam membuat janji dan pertemuan dengan rekanan bisnis Anda. Berada di dekat sekolah dan universitas berstandar internasional, President University memberikan nilai tambah pada kawasan Green Oase ini.

Water Park dibangun di area Green Oase untuk melengkapi kawasan ini dengan suasana alami. Taman air ini dibuat untuk menyeimbangkan keberadaan Botanic Garden sehingga suasana di sini benar-benar seperti suasana alam yang sejuk dan tenang. Kerindangan pepohonan dilengkapi dengan suara air mengalir dan bergemerincing dari air terjun buatan semakin menyegarkan suasana dan hati kita setelah seharian bekerja dan cocok sekali untuk bersantai bersama keluarga di waktu akhir pekan.

Golf Residence: The Beauty of Living In the Golfville

Golf Residence merupakan kawasan perumahan yang dibangun disekitar Jababeka Golf and Country Club yang menawarkan pemandangan padang golf yang indah dan hijau terbentang luas. Memberikan estetika baru dalam rumah tinggal yang didesain khusus untuk hunian di Garden Golf Residence. Kawasan ini menawarkan nilai prestis yang tinggi bagi penghuninya.

Veranda Golf Townhouse menampilkan nuansa baru dalam hunian yang memberikan keseimbangan gaya hidup masa kini. Pemandangan padang golf yang indah menampilkan suasana hijau segar dari balkon rumah. Cluster ini didesain khusus untuk memberikan stimuli untuk persepsi baru akan bersantai yang dikombinasikan dengan elemen relaksasi, kenyamanan dan waktu senggang.

Terrace Golf Villa dan Royal Mansion merupakan pilihan lain dalam hunian di Golf Residence. Kedua cluster ini memebrikan Anda alternativ nilai hunian yang mengedepankan prestis dan gaya hidup yang modern dan eksklusif dengan berbagai fasilitas yang lengkap.

Paladio Grande adalah hunian bernuansa klasik dan modern yang menyediakan fasilitas olah raga dan childern playground juga fasilitas mini golf yang menarik. Cluster ini terletak tepat di belakang shoping arcade Little Paris yang menawan dan menampilkan suasana kota Paris yang yang ramah nan romantis.

Ambassador Village akan mengingatkan kita kepada negeri sendiri yaitu nuansa Bali yang eksotis di dalam cluster ini. Di sinilah Anda akan menemukan Bali di Cikarang dengan nuansa resort pada hunian yang sangat kental sekali terasa aroma Balinya. Cluster ini nantinya akan dihuni orang-orang asing yang tinggal, bekerja ataupun menuntut pendidikan di sini. Keberadaan orang dengan berbagai kewarganegaraan akan meningkatkan nilai hunian di sini.

Amteenar Huis merupakan hunian dengan nuansa desain Art Deco yang menawan. Cluster ini terletak tepat di belakang Little Venice sebagaimana Venice di Itali, Eropa yang mempesona dengan wisata airnya yang menjadikan ciri khas kota ini. Sebuah lambang perpaduan yang sempurna antara keindahan dan aktifitas perdagangan di jajaran shopping arcade yang juga bernuansa Itali.

Clubhouse berskala kawasan juga akan melengkapi fasilitas yang ditawarkan di Golf Residence, selain menawarkan tempat yang nyaman untuk aktifitas bisnis Anda dengan ruang-ruang pertemuan yang eksklusif di area Business Center. Di kawasan ini pun Anda bisa bermain golf di fasilitas Mini Golf yang merupakan daya tarik tersendiri di kawasan Golf Residence karena menawarkan cara lain dalam bermain golf.

Rumah Minimalis

Yang Menampilkan Nuansa Modern di Show Unit Topikana

Selain menampilkan nuansa coklat klasik, rumah modern dengan desain interior minimalis ini juga memberikan kesan lapang di setiap sudut ruangannya. Rumah yang terdiri dari dua lantai ini memiliki satu kamar tidur utama yang ada di lantai satu dan dua kamar tidur anak yang berada di lantai dua.

Pilihan bentuk, desain dan warna furnitur di dalam rumah memberikan bagian yang lapang pada setiap ruangannya. Terlihat dari minimnya detail pada furnitur dan aksesorinya, gaya minimalis yang diangkat ke dalam rumah ini memancarkan persona tersendiri. Rumah ini didesain untuk memberikan beberapa ruang lapang bagi penghuninya untuk mendapatkan keleluasaan dalam beraktifitas di dalam rumah.

Ruang tamu dengan furnitur minimalis modern dipisahkan dari ruangan rumah bagian dalam dengan dinding penyekat yang dekoratif. Ditata sesederhana mungkin agar tamu yang berkunjung bisa duduk nyaman dan juga merasakan keramahan dan kehangatan yang ada di ruang tamu.

Ruang makan yang berdekatan dengan ruang keluarga lantai satu mampu menghadirkan suasana harmonis di dalam rumah. Ruang makan ini berkapasitas empat orang, masing-masing dengan satu sofa coklat untuk dua orang yang diletakkan merapat ke dinding dan dua kursi yang menghadap ke dinding menambah kenikmatan bersantap bersama keluarga. Dengan lampu gantung di atas meja makan akan menghangatkan suasana makan yang mampu menggugah selera.

Ruang keluarga lantai satu dengan pemandangan taman belakang memberikan kesejukan dan meningkatkan keharmonisan keluarga setelah bersantap bersama. Waktu kumpul keluarga sambil menonton acara televisi semakin menyenangkan dengan paduan furnitur nuansa coklat klasik dan desain yang minimalis. Sofa bentuk L yang sejuk dan nyaman membuat acara menonton televisi bersama keluarga lebih menggembirakan.

Ruang tidur utama berada di bagian depan rumah dengan pemandangan taman depan yang tampak dari jendela ruangan mampu meningkatkan kualitas tidur penghuninya. Dengan meja rias yang bersampingan dengan tempat tidur yang dipisahkan dengan dinding penyekat menghiasi ruang tidur dengan furnitur minimalis ini. Adanya kamar mandi dalam dan juga ‘walk-in closet’ melengkapi kenyamanan dan privasi penghuni.

Dua ruang tidur anak di lantai dua dengan meja belajar di setiap kamar memberikan kemandirian kepada anak-anak untuk mengatur waktu belajar mereka sendiri. Tempat tidur singel dan lemari pakaian minimalis memberikan ruangan lapang kepada anak-anak untuk melakukan aktifitas mereka di dalam ruang tidur.

Ruang santai di lantai dua untuk anak-anak membuat suasana lebih menyenangkan dengan adanya balkon kecil untuk melihat pemandangan di sekitar rumah dan udara segar yang masuk ke dalam ruangan ketika pintu dibuka melengkapi rumah minimalis dengan nuansa coklat yang mengangkat elemen modernisme hunian masa kini.

Resto Plaza & Pavilion Shop Kota Jababeka

Tempat makan & gaul yang menyenangkan

Resto Plaza

Keberadaan “cafe arcade” di kawasan Jababeka Education Park merupakan investasi dengan prospek yang sangat menjanjikan. Lokasi yang strategis terletak di pintu masuk utama Jababeka Education Park yang dikelilingi 8 universitas terkemuka, kawasan industri bisnis dengan 1115 perusahaan, 25.000 top eksekutif dan 250.000 ribu karyawan juga kawasan perumahan dengan 700.000 penduduk., menjadikan Resto Plaza sebagai tempat makan dan gaul yang menyenangkan.

Resto Plaza merupakan pusat makanan dan hiburan di Jababeka. Nikmati beragam menu pilihan bersama iringan live music yang siap menghilangkan kepenatan Anda seusai beraktifitas sehari-hari. Lokasi strategis, dekat 3 universitas internasional, kawasan perumahan, kawasan industri dan bisnis. Resto Plaza adalah investasi menguntungkan bagi Anda. Tersedia banyak calon penyewa unit yang dapat segera beroperasi.

Saat ini Resto Plaza tahap 1 dan 2 memiliki 56 unit bangunan yang cocok untuk investasi pengembangan tempat kursus, mini market, salon, fitnes, alat tulis, toko buku, cetak dan fotokopi, studio foto, warnet, work shop studio, bank dan usaha-usaha lainnya. Berbagai peluang usaha bisa dijalankan di Resto Plaza dengan pangsa pasar para mahasiswa, warga perumahan dan karyawankantor sekitar yang membutuhkan keperluan perkuliahan dan kantor serta kebutuhan sehari-hari dengan harga yang kompetitif.

Sebagai pusat hiburan dan makanan, Resto Plaza memberikan pilihan baru dengan masakan yang lebih bervariasi yang akan memanjakan waktu makan dan istirahat pengunjungnya. Dengan waktu beroperasi dari jam 11 pagi sampai jam 10 malam, akan meramaikan suasana di kawasan Jababeka Education Park.

Bagi orang yang selama ini mencari tempat makan dan ajang gaul yang memberikan berbagai pilihan, Resto Plaza hadir di tengah-tengah permintaan pasar yang semakin tinggi. Hal ini tentunya akan mempengaruhi banyak orang yang selama ini mendambakan tempat untuk berkumpul dengan kolega di waktu istirahat makan siang. Tidak hanya itu, sore hari usai jam kantor, para karyawan akan meluangkan waktunya untuk bersantai melepaskan kepenatan sambil menikmati alunan live music yang disediakan oleh pengelola Resto Plaza

Mahasiswa juga menyambut gembira kehadiran Resto Plaza dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan. “One-stop” shopping and cafe arcade menyediakan berbagai keperluan mahasiswa sehingga mereka tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mendapatkan dan membeli berbagai kebutuhan mereka.

Resto Plaza yang terletak berdekatan dengan Academia Student Housing, asrama mahasiswa dan asrama dosen di universitas-universitas di sekitarnya, memberikan jaminan kepuasan dan kemudahan untuk para mahasiswa yang, misalnya, mau membeli alat tulis, buku dan juga fotocopi.

Kehadiran Resto Plaza tentunya akan melengkapi dinamika keseharian mahasiswa dan karyawan yang bekerja di beberapa instansi yang berada di kawasan Jababeka Education Park. Bila mahasiswa dan karyawan mendapatkan warna dan wahana baru di dalam aktivitas sehari-hari mereka yang menawarkan berbagai kemudahan untuk mendapatkan semua keperluan dan kebutuhan mereka, hal itu menjadi nilai lebih yang didapatkan di Resto Plaza.

Resto Plaza akan menjadi pusat usaha dan niaga yang aada di sekitar kawasan Jababeka Education Park. Hal ini akan menjadi nilai plus untuk Resto Plaza itu sendiri. Selain itu juga, Resto Plaza akan menciptakan trend baru di kawasan pendidikan yang telah banyak mahasiswa Indonesia, Vietnam, China, Malaysia dan Nigeria yang menempuh pendidikan mereka di sini.

Pavilion Shop

Pavilion Shop merupakan ruko dua lantai di gerbang cluster Pavilion – Rumah Kos Eksklusif yang dihuni oleh 1000 penyewa dan juga berdampingan dengan Rumah Sakit Internasional. Memiliki pangsa pasar penyewa Pavilion Shop, pengunjung Rumah Sakit Hosana serta 1115 perusahaan multinasional dengan 250.000 karyawan, lingkungan kampus dengan 10.000 mahasiswa juga perumahan dengan 700.000 penduduk.

Pavilion Shop disediakan untuk melengkapi fasilitas Pavilion Rumah Kos Eksklusif dan kebutuhan yang mendasar bagi dinamika masyarakat saat ini adalah kemudahan untuk melakukan dan mendapatkan berbagai hal. Di sini bisa dicermati bahwa dengan berdirinya Pavilion Shop, akan merupakan akses kemudahan yang diberikan kepada para penghuni Pavilion yang ingin mendapatkan kebutuhan sehari-hari mereka.

Pavilion Shop cocok sekali dikembangkan untuk usaha warnet, apotik, toko buah, bakery & cake, lanudry, cafe, toko buku, rumah makan, toko alat tulis, toko fotokopi & studio foto, penyewaan komputer & DVD, mini market dan usaha-usaha lainnya.

Acara pre-launch Pavilion Shop yang diadakan tanggal 4 Desember yang lalu dimeriahkan juga dengan kehadiran Aldi Bragi yang juga diadakannya peletakkan batu pertama kantor pengelola Pavilion, peresmian Estate Management, perkenalan dengan pengelola dan agen penyewa serta acara halal bi halal Pavilion di Kota Jababeka.

Lebih jauh lagi, Pavilion Shop memiliki potensi untuk menjadi tempat gaul bagi para penghuni Pavilion. Mereka akan mencari tempat untuk berkumpul dengan teman mereka. Kebersamaan adalah waktu yang mereka inginkan di akhir pekan. Dari sinilah, Pavilion Shop memiliki potensi besar pengembangan untuk memenuhi keinginan para penghuni Pavilion. Tentunya, dengan potensi pasar yang jelas dan besar, Pavilion Shop akan menjadi investasi yang menguntungkan untuk dikembangkan.

Tentunya, kepuasan para penghuni Pavilion akan terjawab dengan kehadiran Pavilion Shop di tengah mereka yang memberikan berbagai kemudahan dan menawarkan penyediaan keperluan sehari-hari mereka. Pavilion Shop memebrikan apa yang mereka butuhkan. Kelebihan ini akan meningkatkan nilai jual Pavilion Shop secara signifikan.

Lebih jauh lagi Pavilion Shop juga ditujukan untuk melengkapi pengunjung dan pasien di Rumah Sakit Hosana International. Dengan menyediakan berbagai keperluan seperti Apotek yang menyediakan obat-obatan dengan harga bersaing, toko buah-buahan bagi orang yang ingin berkunjung ke pasien bahkan toko souvenir yang menjadi salah satu pilihan untuk diberikan kepada pasien di rumah sakit.

Selain itu juga ditujukan untuk karyawan industri sekitar seperti karyawan PT. Mattel yang tinggal di asrama Mattel dihuni oleh lebih dari 2000 orang karyawan. Pasar yang besar ini meningkatkan nilai investasi Pavilion Shop di masa depan. Penyediaan keperluaan sehari-hari bagi karyawan yang berjumlah besar mampu memberikan pemasukan yang besar pula bagi pemilik ataupun penyewa Pavilion Shop nantinya. Hal ini menunjukkan bahwa Pavilion Shop adalah salah satu pilihan untuk berinvestasi di Kota Jababeka dengan prospek yang sangat menjanjikan.